Artikel
LEGENDA DAN SEJARAH DESA PINGIT
LEGENDA DESA
Melihat bukti peninggalan sejarah dan cerita para sesepuh tentang babad Desa Pingit, merupakan sumber penulisan Rupa Bumi untuk memenuhi permintaan pemerintah atasan sehingga mengenal lebih dekat keberadaan setra asal usul desa sabagaimana dalam undang-undang Desa (Desa berhak melindungi adat istiadat dan mempertahankan kebudayaan yang ada di wilayahnya). Desa Pingit merupakan salah satu desa yang secara biografis terletak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dengan Kabupaten Purbalingga tepatnya adalah sebelah timur Desa Bandingan dan Rakit Kecamatan Rakit sebelah Selatan Desa Gelang dan Situwangi Kecamatan Rakit sedangkan sebelah Barat adalah Desa Karangnangka dan Kutawis Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga serta sebelah Utara adalah sungai Pekacangan wilayah kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga. Luas Desa Pingit + 400,176 Ha pada ketinggian 124 mdpl, wilayah mayoritas datar, masyarakat berpenghasilan mayoritas petani dan pekebun.
Sejarah Desa Pingit
1.Pendahuluan
Desa Pingit merupakan wilayah yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga. Secara geografis, desa ini memiliki luas sekitar 400,176 Ha dengan wilayah yang didominasi dataran, serta sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani dan pekebun.
2. Asal-Usul Berdirinya Desa Pingit
-
Asal Mula Hutan Wingit: Pada masa kerajaan, wilayah ini merupakan hutan terpencil yang sering dijadikan jalan pintas oleh para pedagang dan pengelana. Banyak orang hilang dan tidak pernah kembali, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Hutan "Wingit" (angker).
-
Kedatangan Ki Santadewa dan Ni Saraswati: Sekitar abad ke-17, sepasang prajurit pelarian dari Kerajaan Singosari—Ki Santadewa dan Ni Saraswati—datang dan mengasingkan diri ke wilayah ini. Mereka dijumpai oleh warga setempat dan pemimpin warga bernama Ki Bau Rekso.
-
Membongkar Misteri: Warga meminta bantuan kedua pendekar tersebut untuk mengungkap misteri hilangnya ternak dan warga setiap malam Jumat Kliwon. Singkat cerita, Ki Santadewa berhasil melawan dua penjahat buronan Kerajaan Singosari bernama Ki Mamang Murka dan Ki Mamang Dono yang selama ini bersembunyi di dalam hutan dan menjadi dalang di balik keresahan warga.
-
Penamaan Desa: Setelah misteri terungkap dan hutan tidak lagi angker, Ki Santadewa mengubah nama hutan tersebut menjadi "Pingit" (daerah terpencil untuk persembunyian). Kedua pendekar ini kemudian menetap, membimbing warga hingga hidup damai, dan dimakamkan di desa ini setelah wafat (Ki Santadewa wafat tahun 1786 dan Ni Saraswati wafat tahun 1789).
-
Situs Sejarah Terkait:
-
Makam Sibuda: Tempat dikuburnya Ki Mamang Murka dan Ki Mamang Dono (kata Buda berasal dari bahasa Jawa Wuda yang berarti telanjang/tanpa busana).
-
Pekuburan Larangan: Tempat dikuburnya warga kampung yang menjadi korban saat pertempuran.
-
3. Kampung Pingit Menjadi Pemerintahan
Sejarah Pingit menjadi Pemerintahan;
Jaman Pemerintahan Hindia Belanda banyak sekali perkampungan yang dikuasai oleh penguasa-penguasa dibawah tangan penjajah Belanda, Demang, Tumenggung, maupun Lurah yang menjadi antek-antek penjajah untuk kepentingan pribadidan rela mengorbankan rakyatnya.
1. Masa Pemerintahan Ki Lurah Bendung (Tahun 1852 - 1877): Ki Lurah Bendung bukanlah penduduk asli Kampung Pingit, namun seorang Lurah yang sengaja dipasang oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memperlancar kepentingan penjajahannya. Pada masa pemerintahan Ki Lurah Bendung warga Kampung Pingit merasakan kepedihan yang dalam, karrena ulah Ki Lurah Bendung. Rumah Ki Lurah Bendung merupakan tempat pesta pora dari kalangan lurah-lurah belanda yang berkumpul untuk minum-minuman keras, berjudi, bersenang-senang dengan wanita penghibur dan sebagainya.
2. Masa Pemerintahan Ki Lurah Kasnawi (Tahun 1877 - 1887): Sebagai orang kepercayaan Ki Lurah Bendung, Ki Kasnawi segera mengambil alih pucuk pimpinan dan ia menjabat sebagai Lurah Pingit selama 10 Tahun, namun tidak banyak yang dapat ia lakukan karena masa transisi dan orang-orang disekitarnya sudah menaruh rasa tidak percaya akibat sisa-sisa kebobrokan pada zaman Ki Lurah Bendung.
3. Masa Pemerintahan Ki Lurah Arsa Jaya (Tahun 1887 - 1912): Ki Arsa Jaya adalah seorang tokoh muda yang idealis yang memiliki keinginan untuk merubah tatanan kehidupan di Kampung Pingit. Arsa Jaya tidak mau ditunjuk begitu saja untuk menjadi kepala Kampung, namun ia menginginkan dirinya menjadi kepala Kampung atas persetujuan warganya. Kemudian terjadilah pemilihan kepala Kampung dengan cara para calon berdiri paling depan kemudian di ikuti para warga berderet kebelakang. Barisan paling panjang adalah pemenangnya. Dan terpilihlah Ki Arsa Jaya sebagai Lurah di Kampung Pingit. Selama pemerintahan dipimpin Ki Lurah Arsa Jaya masyarakat Kampung Pingit berangsur-angsur berubah, peradaban dan pendidikan mulai tersebar, meskipun kerusuhan dan keresahan warga masih sering terjadi akibat ulah sisa-sisa anak buah Ki Bendung yang merasa kehilangan kekuasaannya. Pada masa pemerintahan Ki Lurah Arsa Jaya, sudah berpihak kepada para pejuang Kemerdekaan meskipun masih tersembunyi. Beberapa pemuda pemberani dikumpulkan dan dilatih ilmu kanuragan untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan serta menjaga kewibawaan pemerintahan masa kepemimpinan Ki Arsa Jaya. Karena wilayah Kampung Pingit dan penduduknya semakin bekembang luas maka Ki Arsa Jaya membuat perwakilan menjadi dua bagian yaitu:
-
- Pingit Wetan yang dipimpin oleh Ki Bau Singawijaya
- Pingit Kulon yang dipimpin oleh Ki Bau Mertawijaya
Selain membagi desa menjadi 2 (dua) kebaon, untuk melengkapi struktur pemerintahan yakni untuk mengurusi penikahan dan kematian, Lurah Arsa Jaya mengangkat 2 (dua) orang lebe yakni:
-
- Dolah Mansyur yang menjadi lebe Pingit Wetan
- San Mukri yang menjadi lebe Pingit Kulon
Sehingga Struktur Pemerintahan waktu itu menjadi :
| NO | NAMA | JABATAN |
| 1. | ARSA JAYA | LURAH |
| 2. | SINGAWIJAYA | BAU PINGIT KRAJAN |
| 3. | MERTAWIJAYA | BAU PINGIT WETAN |
| 4. | DOLAH MANSYUR | LEBE PINGIT WETAN |
| 5. | SANMUKRI | LEBE PINGIT KRAJAN |
4. Masa Pemerintahan Ki Lurah Jaya Krama (Tahun 1912 - 1926): Sepeninggalan Ki Arsa Jaya munculah tokoh muda sebagai penerus perjuangan pendahulunya. Ki Jaya Krama terpilih sebagai Lurah Pingit, sebagaimana proses pemilihan Lurah pendahulunya yaitu dengan cara berbaris, mana kala barisan itu paling panjang maka dialah sang pemenang yang bisa dinobatkan sebagai Lurah di Kampung Pingit pada masa itu. Pada masa itu pemerintahan sudah mulai tertata sehingga sudah ada penataan administrasi maka Ki Lurah Jaya Krama memusyawarahkan untuk membentuk sebuah pemerintahan yang lebih tertata.
Di masa pemerintahan ini terjadi reshuffle di Wilayah Kebaon Pingit Wetan yakni:
| NO | NAMA | JABATAN | PENGGANTI | TAHUN |
| 1. | MERTAWIJAYA | BAU PINGIT WETAN | SADIRANA | 1922 |
dan dengan bertambahnya penduduk kala itu, Wilayah desapun dibagi menjadi 4 Wilayah Kebaon yakni selain 2 (dua) Kebaon yang sudah ada ditambah Kebaon Bentala dan Kebaon Glempang, sehingga dari pemekaran wilayah tersebut harus menambah lagi perangkat desa dan diangkatlah:
| NO | NAMA | JABATAN |
| 1. | BUNGKRING | BAU BENTALA |
| 2. | NAREDJA | BAU GLEMPANG |
Disamping mengangkat 2 Bau, lurah waktu itu juga mengangkat pamong lain seperti Kebayan, Pulisi dan Lebe yakni:
| NO | NAMA | JABATAN |
| 1. | SANDIWIYA | KEBAYAN |
| 2. | SANREDJA | PULISI |
| 3. | DULAH MANSYUR | LEBE PINGIT WETAN |
| 4. | SANMUKRI | LEBE PINGIT KRAJAN |
Sehingga Struktur Pemerintahan waktu itu menjadi:
| NO | NAMA | JABATAN |
| 1. | JAYA KRAMA | LURAH |
| 2. | SANDIWIYA | KEBAYAN |
| 3. | SANREDJA | PULISI |
| 4. | DOLAH MANSYUR | LEBE |
| 5. | SAN MUKRI | LEBE |
| 6. | SINGADIRANA | BAU PINGIT KRAJAN |
| 7. | SADIRANA | BAU PINGIT WETAN |
| 8. | BUNGKRING | BAU BENTALA |
| 9. | NAREDJA | BAU GLEMPANG |
5.Masa Pemerintahan Ki Guru Mohammad Sahlan (1926-1946 ):Masa peralihan dari penjajahan Belanda ke pendudukan Jepang (1942) yang sangat kejam dan menyengsarakan rakyat selama 3,5 tahun dalam hal sandang, pangan, dan papan.
Ki Lurah Guru Mohammad Sahlan adalah seorang guru Sekolah Rakyat (SR) angka loro kelas 2 di Dusun 1 (kini SDN 01 Pingit) sekaligus menantu K.H. Zen. Beliau memimpin desa selama kurang lebih 20 tahun. Pengangkatan Carik (Sekretaris Desa) untuk pertama kalinya, yaitu Sandim pada tahun 1926.
Pembentukan struktur pemerintahan desa secara resmi yang melibatkan jabatan Lurah, Carik, Kebayan, Pulisi Desa, Lebe, dan Bau di berbagai wilayah (Pingit Wetan, Krajan, Bentala, Glempang).
6.Masa Pemerintahan Ki Guru Mohammad Idris (1946–1959):Menjabat pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, meneruskan kepemimpinan Ki Guru Mohammad Sahlan. Latar belakang beliau sebagai guru dan anak kandung K.H. Mohammad Latif membuat kepemimpinannya menitikberatkan pada pembinaan umat dan pendidikan masyarakat.
Sekolah Rakyat (SR) berkembang dari sekolah angka loro hingga mencapai kelas 5.Terjadi pergantian dan penambahan formasi perangkat desa pada tahun 1954 (di antaranya penambahan perangkat baru untuk posisi Bau Pingit Wetan, Polisi Desa, dan Kebayan).
7.Masa Pemerintahan Bau Naredja (1959–1965):Masa ketika dunia politik dan demokrasi mulai tertata, ditandai dengan tingginya antusiasme masyarakat di mana 12 kandidat maju sebagai kontestan pemilihan lurah hingga akhirnya Ki Bau Naredja terpilih pada tahun 1959.
Situasi pemerintahan kurang kondusif akibat kekecewaan para kandidat yang kalah, memicu provokasi dan mosi tidak percaya.Pada tahun 1965 terjadi demonstrasi besar-besaran yang menyebabkan Lurah Naredja harus mundur dari jabatannya, disertai reshuffle beberapa perangkat desa (Carik, Bau Glempang, Bau Pingit Wetan).
8.Masa Pemerintahan Ki Lurah Rochani (1965–1976):Memimpin selama 11 tahun di tengah masa paceklik kemarau panjang, krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Ir. Sukarno, serta pergolakan pemberontakan G30S/PKI. Berkat kedekatannya dengan masyarakat, beliau mampu mengayomi warga dari berbagai polemik.
Pasca G30S/PKI, semangat pembangunan dan kesadaran pendidikan meningkat, ditandai dengan berdirinya:
MI Muhammadiyah 01 di Dusun 1
MI Muhammadiyah 02 di Dusun 3 (Bentala)
MI Cokroaminoto di Dusun 5
MI Muhammadiyah 03 di Dusun 4 (Glempang)
Terjadi pemekaran wilayah dari 4 kebaun menjadi 5 kebaun (Pingit Wetan, Pingit Lor/Ndukuh, Pingit Bentala, Pingit Glempang, dan Pingit Krajan) serta reshuffle perangkat desa.
9.Masa Pemerintahan M. Nur Azis (1976–1987):Dikenal sebagai pemimpin yang kuat pendiriannya dalam menjalankan roda pemerintahan selama 13 tahun berdasarkan UU No. 05 Tahun 1975 tentang Pemerintahan Desa.Melakukan reshuffle besar-besaran dan penambahan formasi perangkat desa baru, serta mengangkat Mahful BA sebagai Carik menggantikan dirinya.
Pengalihan jalur jalan utara ke tengah melalui program ABRI Masuk Desa (AMD) untuk peluang ekonomi, pembangunan Tugu Cokrowidagdo, Balai Desa, pelebaran jalan seluruh wilayah, talud jalur utama, dan jembatan irigasi.Berdirinya Masjid Ar-Rohman (Dusun 3), Masjid Al-Ikhlas (Dusun 4), serta SD Inpres 2 dan SD Inpres 3 di Dusun 3.
10.Masa Pemerintahan Mahful, B.A. (1989–1998):Berjalan pada puncak Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dengan penerapan politik loyalitas tunggal. Pembangunan fisik mendapat prioritas bantuan pemerintah melalui program AMD, Padat Karya, Bandes, UED-SP, dan Listrik Masuk Desa. Menjelang akhir masa jabatan, terjadi gelombang demonstrasi besar era reformasi di berbagai tingkatan.
Menyesuaikan formasi perangkat desa dengan UU No. 05 Tahun 1979 (mengubah istilah jabatan menjadi Sekretaris Desa, Kaur, dan Kepala Dusun) serta mengangkat Siswo Suwarno sebagai Sekretaris Desa baru.Pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu), pengerasan jalan makadam Dusun 3 (program AMD), dan jembatan saluran onggok atas Dusun 2 sebelah timur.Berdirinya Masjid Al-Mugorob di Dusun 2 sebelah timur pada tahun 1995.
11.Masa Pemerintahan Amanullah (1998–2007):Menjabat pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi yang dinamis dan rumit akibat tingginya kebebasan berpendapat masyarakat menyuarakan pemerintahan yang bebas KKN (Korupsi,Kolusin dan Nepotisme). Di sisi lain, aspirasi dan bantuan pemerintah mulai terbuka melalui jalur legislatif dan partai politik.
Penyederhanaan perangkat desa berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 serta pengangkatan perangkat baru pada tahun 2003.Pembentukan Badan Perwakilan Desa (BAPERDES) pada tahun 1999 yang sering diwarnai dinamika dan mosi tidak percaya, yang kemudian perannya diubah menjadi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) pada tahun 2007.
Pengaspalan jalan jalur utama dan antar-desa (APBD I & II) serta pembangunan Jembatan Kedunglow (2004) bekerja sama antar-kabupaten.Berdirinya Masjid Baiturrahman (Dusun 1), pelatihan pertanian bersama BLK Klampok, dan penyaluran Raskin.
12.Masa Pemerintahan Kepala Desa Miftahudin Periode Pertama (2007–2013):Penyelenggaraan pemerintahan semakin menonjol seiring otonomi daerah dan kuatnya sinergi antara Pemdes, BPD, dan LP3M.Pengangkatan Sekretaris Desa (Milda Andi Achmad) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2008.Penyesuaian dan pengangkatan perangkat desa baru pada tahun 2009 dan 2010.
Pembangunan fisik semakin digalakkan melalui program PNPM-Mandiri Perdesaan, TMMD, PPIP, ADD, dan dana APBD II, meliputi pembangunan Kantor & Aula Desa, pengaspalan serta betonisasi jalan di berbagai dusun, talud, jembatan, dan sarana pendidikan.Bantuan sosial untuk sarana peribadatan (masjid/mushola/TPQ), pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), serta plesterisasi bagi Rumah Tangga Miskin (RTM).Pelatihan UMKM, home industry, anyaman bambu, seriping pisang, serta bantuan bagi kelompok tani dan perikanan.
13.Masa Pemerintahan Kepala Desa Miftahudin Periode Kedua (2014–2019):Masa yang sangat dinamis ditandai dengan program Nawacita nasional dan disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang membawa perubahan besar pada regulasi, struktur organisasi, dan tata kelola keuangan desa.
Penyesuaian struktur organisasi perangkat desa (mengacu pada Permendagri No. 84 Tahun 2015 & Perda Banjarnegara) melalui reshuffle pada tahun 2017 dan 2018.Pengisian keanggotaan BPD (2017–2022) dan pergantian kepemimpinan BPD secara berkala.Pengelolaan keuangan desa (APBDes) yang transparan mencakup bidang penyelenggaraan pemerintahan, siltap, tunjangan, operasional RT/RW, hingga administrasi kependudukan.
Fokus pembangunan tahun 2014–2019 meliputi pemeliharaan jalan desa, betonisasi jalan lingkungan, pembangunan talud, drainase, gorong-gorong, jaringan irigasi, rehabilitasi RTLH, serta sarana posyandu.Pembinaan keagamaan, kepemudaan, PKK, olahraga, kesenian, serta pelatihan peningkatan kapasitas BUMDes, kelompok perikanan, pertanian, dan industri kecil rumah tangga.
Menjelang akhir masa jabatan, kekosongan jabatan Kepala Desa sempat diisi oleh Penjabat (Pj.) Kades Bapak Akhmad Nursalim, S.SP (Juli–Desember 2019).
14.Masa Pemerintahan Kepala Desa Joko Nurahyono (2019-2025):Terpilih sebagai Kepala Desa Pingit dalam pemilihan Kepala Desa Tahun 2019 dab resmi disahkan melalui surat keputusan Bupati Banjarnegara Nomor 141.1/1083 Tahun 2019 tentang pengesahan dan pengangkatan Calon Kepala Desa terpilih menjadi Kepala Desa Pingit Periode 2019-2025.
POTENSI DESA PINGIT
Visi & Misi
KARNAVAL KEMERDEKAAN HUT RI Ke-81 DI DESA PINGIT
Rembug stunting dalam rangka pencegahan dan penurunan stunting tingkat desa pingit
Penerjunan Mahasiswa KKN Kelompok 26 UMNU Kebumen di Desa Pingit Tahun 2026
TINGKATKAN KUALITAS LAYANAN, KADER POSYANDU DESA PINGIT IKUTI PELATIHAN KAPASITAS LEMBAGA
Selamat Datang di Website Resmi Desa Pingit
Desa Pingit Terima Bantuan Pangan Beras Bulog 2025 : Wujud Dukungan Ketahanan Pangan
Peduli Generasi Sehat, Mahasiswa KKN Unsoed Sosialisasikan Pencegahan Stunting pada Ibu Hamil di Desa Pingit
Semarak Lomba HUT RI ke-80 di Desa Pingit, Rakit, Banjarnegara
Cegah Peredaran Rokok Ilegal, Mahasiswa KKN Unsoed Gelar Sosialisasi di Desa Pingit
Pelatihan Pengelolaan Website Desa dan Jurnalis Desa, dalam Rangka Meningkatkan Kapasitas Aparatur dan Keterbukaan Informasi Publik
Lelang Tanah Kas Desa Pingit Tahun 2026 Berjalan Tertib dan Transparan

